Selasa, 04 September 2012
WHEN YOU LOVE SOMEONE
Kenangan selalu ada dalam sebuah kehidupan. Kemudian masing-masing dari kita yang akan mengolahnya. Dalam dunia yang kita tempati ini, kenangan hanya memiliki dua jenis dan dua cara dalam memperlakukan kenangan itu sendiri. Jenisnya baik dan buruk. Caranya disimpan dan dilupakan.
Jatuh cinta pada seseorang perempuan adalah sesuatu yang indah bagi setiap orang. Meski demikian bagiku jatuh cinta pada seseorang yang beda akidah dan keimanan adalah sebuah yang tabu. Seperti sebuah tanaman, bagiku tak perlulah aku berusaha untuk memupuk cintaku itu. Sebab cintaku itu adalah jenis rumput yang harus disiangi dalam hati.
Dalam kehidupan seorang anak Adam, melupakan sesuatu yang indah adalah hal yang teramat berat. Berat karena banyak halang-rintang yang menghadang proses pelupaan sesuatu yang indah tersebut. Bahwa setiap manusia adalah lemah dan tidak berdaya adalah sebuah hal yang nyata. Dalam ketidakberdayaan itu aku menulis beberapa buah puisi tentang apa yang aku rasakan. Mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiranku lewat tinta-tinta yang tercecer dalam sebuah pena.
Aku bukan orang yang suka menceritakan apa yang aku rasakan, terlebih lagi soal cinta. Menyimpan puisi-puisi dalam sebuah lembaran-lembaran kertas yang tersimpan dalam meja belajarku sama saja membuat ketakutan suatu saat terbaca oleh keluargaku, entah orang tuaku, adik-adikku. Upayaku untuk menyelamatkannya adalah dengan menuliskannya dalam sebuah blog pribadiku yang mendadak aku buat untuk keperluan itu.
Yang kutuliskan dalam blog itu adalah sampah kegalauan yang tak akan aku ingat-ingat lagi. Takkan lagi mengingat seorang Kartika, kakak kelasku, sebagai perempuan yang pernah aku jatuh cintai. Namun demikian, Aku tetap membiarkan orang lain membacanya, walaupun aku tak akan pernah mengakuinya bahwa itu adalah puisi yang kutuliskan untuk seseorang yang mungkin pernah membuat hatiku terjangkit penyakit cinta. Jika aku ditanya, selalu ku-umbar pada orang lain bahwa itu hanyalah sebuah permainan kata imajinatif pikiranku, kecuali pada Laila.
Laila adalah perempuan yang kemudian hadir dalam kehidupanku seiring dengan masalah yang aku sendiri tak tahu ujung dan akhir masalahnya. Beberapa hari ini pikiranku disibukkan oleh masalah pribadi segelintir orang yang kemudian mencuat keluar dan merembet ke masalah ekskul PMR yang aku pimpin.
Bahkan tak ada badai di siang bolong dan tak ada matahari pada dini hari. Lalu, entah karena apa, kemudian aku harus mendamaikan dua orang sekretaris PMR yang punya masalah. Tiba-tiba saja aku diminta untuk memimpin sebuah forum yang dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Markas sementara menjadi ruang curhat massal, kemudian dari masalah yang mereka ungkapkan masih dengan tiba-tiba mereka berdua menangis begitu saja, sambil melempar maaf dan menjelaskan apa yang terjadi. Meski sebenarnya aku belum menemukan intinya, kita semua yang hadir disitu akhirnya bersepakat untuk menutup masalah itu dengan maaf dan damai.
Namun, dikemudian hari masalah itu muncul lagi. Tidak hanya dalam orde hari, tetapi minggu bahkan berbulan-bulan masalah itu masih menyisakan suatu bekas yang masih meninggalkan beberapa deret titik-titik dan tanda tanya.
Lalu suatu hari yang cerah, setelah aku pulang sekolah tentunya. Aku diminta Laila untuk datang kerumahnya. Aku datang sendirian. Mengetuk pintu rumahnya dan dia membukakan pintu untukku, Dalam sebuah ruang tamu, kita berbincang tentang masalah itu. Tapi aku tahu ada yang disembunyikan dari pembicaraan kita. Terlebih saat dia menanyakan untuk siapa aku menulis puisi-puisi dalam blog itu.
“Ayolah bilang ke aku, sebenarnya puisi itu untuk siapa? Kita tidak bisa mempertahankan masalah ini terus menerus. Jika kamu ingin cepat masalah ini selesai, selesaikan sekarang” desak Laila padaku.
Aku bukanlah orang yang mudah menyerah untuk mempertahankan sesuatu. Saat aku bilang “tidak”, maka aku tidak akan berkata dan mengubah menjadi “iya”, kecuali untuk beberapa hal. Termasuk kasus ini.
Pada akhirnya aku tahu semua, setelah aku mengakui bahwa puisi-puisi itu adalah untuk Kartika. Tersadar pula bahwa masalah ini kemudian semakin rumit. Tanpa kusadari, kedekatanku akhir-akhir ini dengan Rofi telah menyalakan api cemburu. Sekar, sekretaris utama PMR, diam-diam menyimpan rasa padaku.
Aku, Rofi dan Sekar berada dalam kelas, Dalam hati, sebenarnya merasa kesal tejebak dengan masalah ini. Memang hak seseorang untuk menyukai siapapun. Hak setiap orang bisa akrab dengan siapa saja asal dia mampu akarab dengan orang itu. Selama ini memang aku dekat dengn Rofi. Kita selalu berada dalam satu kelompok saat ada tugas ataupun PR. Mungkin dalam beberapa kali keakrabanku muncul dengan Rofi itu terlihat oleh Sekar.. Mungkin pula “kebencian” itu kemudian terbentuk. Wajar jika kita kemudian duduk satu meja berdua untuk mengerjakan PR kelompok. Atau kemudian berdiskusi dalam menyusun laporan praktikum kimia. Karena kita memang didekatkan oleh suatu kondisi profesional yaitu satu kelompok.
Ingatanku melayang menuju beberapa hari ke belakang. Pernah suatu ketika aku dan Rofi duduk di sebuah kursi panjang. Di sebuah lorong kelas setelah kita praktikum kimia. Dia curhat kalau dia agak kesal dengan Sekar. Dia merasa bahwa Sekar selalu ketus dengannya, apapun dan dimanapun konteksnya. Dan sekarang aku tahu jawabanya, Sekar tidak suka dengan Rofi karena aku.
Disela-sela lamunanku tentang kejadian itu, Laila kemudian bercerita bahwa sebenarnya dia sudah janji kalau tidak akan bercerita tentang ini kepada siapapun bahwa Sekar diam-diam jatuh hati padaku. Tetapi menurutnya justru inilah hal yang rumit. Karena janji Laila dengan Sekar, masalah ini akan sangat sulit selesai sebab tak boleh diketahui oleh siapa-siapa kecuali aku dan Laila.
Bahwa selalu ada efek dalam sebuah peritiwa entah itu baik dan buruk adalah benar. Di satu sisi ini menjadi asal muasl aku dan Laila menjadi dekat dan berkawan erat. Karena setiap kali masalah ini mencuat lagi. Kita bertemu dan membahas serta cari solusi masalah ini. Kadang kita bertemu di markas, kadang kita berbincang di rumah Laila, pun tak jarang kita makan berdua hanya untuk membahas masalah ini. Seperti ungkapan ada gula ada semut, teman-teman yang sering melihat aku dan Laila jalan berdua ataupun berboncengan sepeda motor kemudian meduga bahwa kami sudah menjadi sepasang kekasih.. Mungkin ini pula yang disadari oleh Sekar, hingga dia akhirnya menyimpulkan bahwa sekarang aku jatuh cinta pada Laila atau menuduh Laila merebut aku darinya. Namun, celakanya dia menyandarkan semua tuduhan itu dari puisi-puisi di blogku bahwa aku jatuh cinta pada Laila seperti apa yang aku tulis sebagai puisi cinta di blogku.
Kenangan selalu ada dalam sebuah kehidupan. Kemudian masing-masing dari kita yang akan mengolahnya. Dalam dunia yang kita tempati ini, Allah telah memberikan kenangan kepada hamba-Nya. Tak hanya kenangan, Dia Yang Maha Kuasa juga akan memberikan kepada hamba-Nya sebuah cinta. Dan sepasang hamba-Nya, kemudian merasakan Cinta-Nya dalam masalah yang rumit ini, dengan menemukan cinta pada sebuah persahabatan yang panjang
Langganan:
Postingan (Atom)